Banjir Sebulan Genangi Rumah Warga Disinyalir Akibat Penimbunan Tanpa Kajian Dampak Lingkungan
Haloindonesianews.com, Batanghari – Sebuah Rumah warga yang berada di RT 02 lingkungan 1 Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, tergenang air selama 28 hari, banjir ini diduga dampak dari adanya penimbunan yang dilakukan di samping SPBU Muara Tembesi, hingga aliran air mengalami ketersumbatan dan berdampak pada banjir di rumah warga.
Hampir satu bulan banjir air rawa menggenangi rumah warga di RT 02 kelurahan kampung baru, kecamatan muara Tembesi, dampak banjir diduga adanya penimbunan yang dilakukan dibelakang ruko, samping SPBU Muara Tembesi, sehingga aliran air tidak lancar dan menyebabkan genangan air masuk ke rumah ibu Tuti dan keluarganya hingga ketinggian air mencapai mencapai 30 centi meter dilantai rumahnya.
“Air ini sudah menggenangi rumah kami 28 hari terakhir, sebelumnya hujan deras, banjir sebentar dan surut, saat ini lah hampir satu bulan dak kunjung surut” jelas Tuti sambil berharap penuh air segera surut Rabu (28/05/24)
Suasana rumah yang tergenang air selama hampir satu bulan lamanya, dampak tidak normalnya aliran parit disamping rumahnya yang terintegrasi ke samping SPBU Muara Tembesi yang dilakukan penimbunan, tidak hanya rumah warga halaman madrasah Al-falah turut digenangi air hingga batas mata kaki orang dewasa.
“Kita tidak tau juga apakah ada sumbatan di dalam.parit dibawah jalan lintas nasional atau adanya timbunan tersebut” katanya
Semua barang di ungsikan keluar tempat yang lebih tinggi, bahkan aktifitas rumah tangga nyaris lumpuh, Tike wana ningsih yang dalam kondisi hamil 8 bulan, khawatir berdampak pada kandungannya bila air terus menggenangi rumahnya, karena berbagai binatang liar kerap melintas, bahkan penyakit kutu air di telapak kaki dan gatal gatal pun telah menyerang semua keluarganya.
“Yang jelas berdampak pada penyakit kulit, kedua orang tua saya telapak kakinya terserang kutu air dan gatal, selama satu bulan berobat dak kunjung sembuh, sementara saya yang hamil 8 bulan khawatir berdampak pada bayi yang saya kandung” jelasnya
Tike wana ningsih saat di temui terlihat di wajahnya yang terseduh merenungi nasib keluarganya, bahkan matanya yang berkaca kaca berharap adanya tindakan tegas dari pemerintah untuk dapat mencari solusi terbaik, karena menurutnya, keluarganya merupakan salah satu terdampak yang dirasakannya satu bulan terakhir dengan genangan air tersebut.
“Saya harap adanya ketegasan pemerintah, karena keluarga kami yang terdampak, dan banjir ini hampir satu bulan, ayah saya tidur di luar membentang tikar di tanah untuk menjaga barang barang yang di ungsikan keluar” sebutnya dengan mata yang berkaca.
Sejauh ini dirinya tidak tau harus mengadu ke siapa, untuk dapat menindak tegas dan kembali menormalkan aliran parit dan rawa yang ditimbun di hilir aliran parit yang disinyalir penimbunan tidak memiliki izin dan pengkajian dampak lingkungan. (Yadi)






Discussion about this post