Misteri Perencanaan Kapal 10 GT Yang Didatangkan 16 GT, Kabid Tangkap Perikanan Defriani Bungkam dan Menghindar Dari Wartawan
HALOINDONESIANEWS.COM,Tanjab Timur- Aroma tak sedap menyeruak di balik proyek pengadaan kapal nelayan pada Dinas Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.
Proyek yang menelan anggaran miliaran rupiah itu kini menuai sorotan setelah muncul dugaan maladministrasi, dan sikap tertutup pejabat berwenang terkait perubahan spesifikasi kapal secara mendadak.
Proyek pengadaan kapal bagi nelayan di Desa Lambur Luar, Kecamatan Muara Sabak Timur ini sedari awal direncanakan untuk kapal berkapasitas 10 Gross Ton (GT).
Namun, dalam realisasinya, kapal yang hadir justru berukuran 16 GT. Perubahan wujud bantuan ini memicu tanda tanya besar mengenai konsistensi perencanaan dan akuntabilitas penggunaan APBD 2025.
Berdasarkan data yang dihimpun, pengadaan kapal yang diberi nama KM Tanjab Timur Merata 01 ini diduga menghabiskan dana sebesar Rp 1,8 miliar.
Angka tersebut belum termasuk biaya desain kapal yang mencapai Rp 90 juta, sebuah angka yang dinilai fantastis untuk sekadar biaya rancang kapal bantuan untuk nelayan.
Pekerjaan desain tersebut diketahui dimenangkan oleh PT Sarawani Visindo Teknik, sebuah perusahaan konsultan dari luar daerah.
Sorotan publik mengarah pada efisiensi anggaran, mengingat biaya desain yang besar tersebut dianggap menambah beban APBD di tengah urgensi fungsionalitas bantuan bagi nelayan kecil.
Upaya konfirmasi yang dilakukan jurnalis haloindonesianews.com terhadap Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Defriani berujung jalan buntu.
Defriani, yang juga menjabat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam proyek ini, terkesan enggan memberikan penjelasan transparan.
Meski berada di kantor, Defriani berulang kali menghindari awak media. Usai mengikuti rapat OPD,pada Kamis,(26/02/2026).
ia diduga sengaja berpindah ruangan untuk mengelak dari kejaran pertanyaan jurnalis.
Tak hanya itu, pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp yang dilayangkan pun tak kunjung digubris.
Sikap tertutup ini justru mempertebal dugaan adanya sesuatu yang disembunyikan di balik layar pengadaan kapal miliaran rupiah tersebut.
Ironisnya, meski kapal telah diserahkan secara simbolis pada akhir Desember 2025 lalu, manfaatnya belum dirasakan secara optimal oleh nelayan.
Laporan di lapangan menyebutkan, bahwa kapal tersebut sempat tertahan di dermaga. Alasan teknis seperti kendala cuaca dan kondisi jaring yang belum siap pakai menjadi kendala operasional. Hal tersebut memperpanjang daftar masalah pada proyek ini.
Sampai saat ini jurnalis Haloindonesianews.com belum berhasil mengkonfirmasi Kabid tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, terkait alasan perubahan spesifikasi kapal dari 10 GT menjadi 16 GT, serta rincian urgensi biaya desain yang dianggap tidak wajar tersebut. (Rano)
Baca juga:






Discussion about this post