Ratusan Warga Protes Bawa Keranda, Matinya Keadilan Infrastruktur
HALOINDONESIANEWS COM, Muaro Jambi- Pemandangan tak biasa terlihat di Desa Talang Belido, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Senin 30 Maret 2026.
Sebuah keranda mayat digotong perlahan, membelah genangan air berwarna cokelat yang memenuhi lubang-lubang jalan layaknya kubangan kerbau.

Ratusan warga berjalan kaki menyusuri jalanan yang hanya sedikit menyisakan aspal. Namun, ini bukanlah prosesi pemakaman jenazah, melainkan sebuah aksi teatrikal protes keras warga terhadap kerusakan jalan.
Bertajuk ‘Festival Jalan Seribu Lubang’, aksi ini menjadi simbol kekecewaan mendalam warga yang merasa di anak tirikan oleh Pemerintah sejak tahun 2012.
Kreativitas ratusan warga dalam meluapkan amarah terlihat dari berbagai aksi menyindir. Warga yang didominasi oleh emak-emak tampak berpura-pura mencari ikan di tengah lubang jalan yang menganga dan terisi air hujan.

Tak hanya itu, warga juga membentangkan spanduk bertuliskan ‘Selamat Datang di Festival Jalan Seribu Lobang’.
Di sepanjang jalur sepanjang satu kilometer, pohon-pohon pisang ditanam tegak lurus di tengah jalan kabupaten ini sebagai penanda lubang sekaligus bentuk protes warga atas ketidak Adilan infrastruktur jalan.
Pada batang pohon tersebut, tersampir kritik pedas yang ditulis di atas kardus, mulai dari tuntutan perbaikan hingga pesan yang dialamatkan langsung kepada pemerintah.

Koordinator aksi, Mulyadi menegaskan, bahwa kesabaran warga sudah mencapai batasnya. Sejak tahun 2012 hingga kini, belum ada pembangunan berarti di wilayah mereka.
“Kami menuntut adanya perbaikan jalan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka panjangnya, kami meminta pengecoran atau pengaspalan. Aksi ini adalah bentuk kesabaran yang sudah tidak tertahan,” ujar Mulyadi di sela-sela aksi.
Menurutnya, kondisi jalan yang rusak parah ini mencapai puluhan kilometer hingga ke Desa Ladang Panjang. Padahal, jalan ini merupakan urat nadi ekonomi bagi pengangkut hasil bumi sawit dan karet, serta akses utama kesehatan dan anak-anak menuju sekolah.
“Desa kami sudah seharusnya jadi prioritas. Penduduk kami lebih dari 10 ribu jiwa. Hasil bumi tinggi, dan banyak perusahaan besar melintas, termasuk BUMN Pertamina yang sudah ada sejak tahun 80-an,” tambahnya.
Kepala Desa Talang Belido, Fadli, yang hadir di lokasi menyatakan bahwa aksi ini murni aspirasi warga yang ingin suaranya didengar oleh pemerintah pusat maupun daerah.
“Masyarakat ingin menyampaikan aspirasinya melalui kebebasan berpendapat. Harapannya, jalan ini secepatnya diperbaiki karena setiap hari dilalui warga dalam kondisi becek dan berlubang,” kata Fadli.
Warga memberikan tenggat waktu selama satu minggu kepada pemerintah untuk memberikan respons nyata, meskipun hanya berupa perbaikan darurat atau tambal sulam.
Jika dalam tujuh hari ke depan tidak ada kepastian, warga mengancam akan menggelar aksi lanjutan jilid dua dengan massa yang lebih besar. (red)






Discussion about this post