Turki Berencana Impor Vaksin Nusantara 5,2 Juta Dosis
HALOINDONESIANEWS- Pemerintah Turki dikabarkan berminat melakukan impor vaksin Nusantara dari Indonesia sebanyak 5,2 juta dosis.
Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular Unair Profesor Choirul Anwar Nidom membeberkan alasan Turki tersebut.
Alasan pertama Turki berminat mengimpor vaksin Covid-19 besutan Terawan Agus Putranto karena berasal dari darah calon penerima vaksin, sehingga aman
Menurutnya, perlu waktu 7 hari untuk penyuntikan vaksin setelah pengambilan dan pemrosesan darah dari calon penerima vaksin.
Kemudian, lanjut Nidom, karena vaksin Nusantara tidak mengandung bahan kimia atau benda asing seperti vaksin konvensional.
Dia menjelaskan bahwa vaksin konvensional menggunakan aluminium hidroksida untuk meningkatkan antibodi.
Zat tersebut bisa bersifat neurotoksin atau neurotoksik di dalam tubuh dengan gejala kejang dan serangan jantung.
Neurotoksin sendiri berarti zat sintetis atau alami yang merusak, menghancurkan, atau mengganggu fungsi sistem saraf pusat dan atau perifer (sistem saraf tepi).
“Sehingga dari segi agama, vaksin Nusantara aman karena tidak mengandung zat atau mineral lain, diproses dari darah orang yang akan divaksin,” jelasnya, seperti dikutip dari Bisnis pada Kamis (26/8/2021).
Lebih lanjut, Nidom menyatakan bahwa vaksin Nusantara juga aman bagi orang yang mempunya komorbid.
Nidom menyebut berdasarkan hasil uji klinis fase 1 dan 2, antibodi untuk melawan Virus Corona SARS-CoV-2 muncul setelah 17 hari penyuntikan serta tidak ada KIPI serius.
Terkait hal itu, Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menyambut positif dan memberikan dukungan penuh.
LaNyalla lantas berharap pemerintah Indonesia bisa segera memproduksi vaksin besutan dr. Terawan Agus Putranto itu secara massal.
Dia juga meminta pemerintah dan masyarakat saling bekerja sama untuk mendukung hal tersebut agar bisa terealisasi.
“Indonesia harus segera bersiap dengan rencana ekspor vaksin Nusantara ke Turki sebanyak 5,2 juta dosis,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/8/2021), seperti dikutip dari detikhealth. (*)






Discussion about this post