Secercah Harap Warga Desa Pada Polres Batanghari dan inspektorat Audit Dana Desa
HALOINDONESIANEWS.COM, Batanghari– Di tengah keresahan publik atas maraknya penyalahgunaan dana desa yang kerap dimanfaatkan kades untuk mengambil keuntungan pribadi, Polres Batang Hari bersama Inspektorat menyalakan lentera harapan lewat audit investigatif. Langkah ini diyakini mampu menghadirkan tata kelola yang bersih dan berpihak pada rakyat desa.
Sarana dan prasarana desa yang kerap menjadi harapan penuh warga, pupus hanyanya isapan jempol belaka, Suara riuh anak-anak di sebuah dusun di kabupaten Batang Hari terdengar jelas setiap sore. Mereka bermain bola di lapangan yang tanahnya masih becek di kala hujan, dan berdebu di musim kering, menunggu janji pembangunan sarana olahraga dari dana desa. Sementara , di sisi lain, para ibu ibu menatap jalan berlubang di depan rumah, berharap segera diaspal agar akses ke kebun dan pasar lebih mudah. kruh harapan tersebut hanyalah angan angan yang tak sampai, sementara gelontoran dana desa yang setiap tahunya masuk ke kas desa untuk proses pembangunan pupus hanya ego sang kades yang tak peduli akan kepentingan Warga untuk menikmati fasilitas sebagai penunjang ekonomi warga.
Harapan sederhana yang sejatinya menjadi tujuan hadirnya Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD). Untuk proses Pembangunan daerah melalui desa, Namun sayangnya, di sejumlah daerah di provinsi Jambi, menjadikan oknum sang kades terjerat hukum akibat selalu ingin memikirkan memperkaya kepentingan pribadi.
Baca juga:
Dari Ujung Jabung hingga kerinci, persoalan mark up dan penyimpangan oknum kades dalam mengelola dana desa terekam jejak digital saat melalui proses di kejaksaan negeri maupun dalam proses sidang pengadilan, di kerinci misalnya baru baru ini
seorang mantan pejabat kepala desa menghamburkan lebih dari Rp600 juta dana desa untuk foya-foya dan judi online. Ada pula kasus dugaan korupsi Rp 1 miliar lebih yang menyeret dua kepala desa dengan modus laporan pertanggung jawaban palsu. adanya temuan 800 juta kerugian akibat mark Up-nya oknum kades di Kabupaten Sarolangun, hingga berujung masuk bui, Tak berhenti di sana, dari Muaro Jambi hingga Tanjung Jabung Barat, kasus proyek fiktif dan rekayasa laporan terus bermunculan, meninggalkan luka dan rasa kecewa bagi warga desa yang semestinya menikmati manfaat dana pembangunan.
Di Kabupaten Batang hari sendiri, pernah mencuat dugaan mark Up Pembangunan Bangunan Pustaka di beberapa desa, kemudian adanya proyek DAK yang mubazir seakan dana miliaran yang digelontorkan pemerintah pusat hanyalah seonggok sampah Tanpa dihiraukan.
Menyadari fakta ini, Polres Batang Hari bersama Inspektorat Bergerak cepat. Audit investigatif akan digelar ke desa-desa, bukan semata mencari kesalahan, melainkan memberi pendampingan agar pengelolaan keuangan benar transparan, tertib, dan akuntabel.
Di tengah keresahan publik atas maraknya penyalahgunaan dana desa, Polres Batang Hari bersama Inspektorat menyalakan secercah harapan lewat audit investigatif. Langkah ini diyakini mampu menghadirkan tata kelola yang bersih dan berpihak pada rakyat desa.
“Rencana ini sedang dimatangkan, dan akan kami sinergikan dengan instansi terkait,” ungkap seorang perwira Polres Batang Hari. dilansir dari media suarakalangan.com
Langkah ini mendapat sambutan positif dari warga Batanghari, Kurniawan misalnya seorang tokoh masyarakat, mengutarakan audit investigatif sangat penting agar tata kelola desa semakin baik dan tidak menimbulkan fitnah di kemudian hari.
“Kami mendukung penuh upaya ini. Kalau dana desa dikelola dengan benar, masyarakat yang akan merasakan manfaatnya,” ucapnya
Nada serupa datang dari aktivis Gerakan Pemberantasan Korupsi Jambi (GPKJ), Supian. Ia menekankan perlunya sinergi lebih luas antar-aparat penegak hukum.
“Polisi sudah memulai, tapi sebaiknya jaksa juga ikut aktif. Pengawasan yang kuat dan menyeluruh akan membuat kepala desa lebih hati-hati, dan pada akhirnya masyarakat yang diuntungkan,” tegasnya.
Audit ini ibarat angin segar, bukan momok, melainkan pengawal harapan. untuk memastikan setiap rupiah dana desa kembali ke rakyat, membangun jalan, jembatan, sarana pendidikan, hingga kegiatan pemberdayaan yang memberi ruang lebih luas bagi warga untuk berkembang.
Di ujung dusun, anak-anak masih tertawa riang, meski kaki mereka belepotan lumpur saat berlari di jalan tanah yang belum juga diaspal. Para petani tetap berangkat ke kebun meski harus menyeberangi jembatan kayu rapuh yang nyaris ambruk. Mereka tidak meminta banyak—hanya agar dana desa yang digelontorkan negara benar-benar hadir di tempat mereka berpijak.
Audit investigatif yang kini disiapkan ibarat lentera yang dinyalakan di tengah gelapnya kecurigaan publik. Ia bukan sekadar langkah administratif, melainkan janji bahwa suara rakyat desa tidak akan lagi ditenggelamkan oleh laporan fiktif dan proyek siluman.
Harapan itu kini menggantung di langit Batang Hari: ketika dana desa dikelola dengan jujur, maka jalan yang mulus, sekolah yang layak, hingga jembatan yang kokoh bukan lagi sekadar impian. Sebab di setiap rupiah yang bersih, tersimpan doa ribuan warga desa—doa agar pembangunan benar-benar sampai ke halaman rumah mereka. (yd)






Discussion about this post