Kendala Distribusi Makan Bergizi Gratis di SMPN 5 Tanjab Timur, Dari Stok Buah Pir Hingga Label Produk
HALOINDONESIANEWS.COM, Tanjabtim- Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 5 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, terus beradaptasi dengan tantangan operasional di lapangan.
Hingga Senin (9/3/2026), distribusi makanan oleh Satuan Pelayanan Gizi (SPPG) Pandan Lagan, Kecamatan Geragai masih menjadi sorotan, terutama terkait aspek pengemasan dan pola distribusi.
Di sekolah tersebut, menu makan siang yang disajikan hari ini terdiri dari roti abon, telur rebus, buah pir serta kacang tanah teri.
Meski nutrisi yang tersaji dipastikan memenuhi standar, kemasan makanan yang diterima pihak sekolah belum mencantumkan label informasi produk atau merek.
“Menu hari ini tidak diberikan merek pada kemasannya,” kata salah satu guru piket di SMP Negeri 5 Tanjung Jabung Timur saat ditemui jurnalis Haloindonesianews.com, Senin (09/03/2026).
Terkait teknis penyaluran, ahli gizi SPPG Pandan Lagan, Maulidia Usna Safitri menjelaskan, bahwa pihaknya telah mengubah pola distribusi.
Jika pada pekan sebelumnya distribusi dilakukan sekali untuk kebutuhan tiga hari, kini pengantaran dilakukan setiap hari.
“Minggu kemarin memang kami menyesuaikan karena SPPG sempat tidak beroperasi. Namun, mulai minggu ini kami melakukan pengantaran setiap hari,” jelas Maulidia.
Menurutnya, hari ini pihak SPPG Pandan Lagan menyediakan dua opsi porsi yang disesuaikan dengan kelompok usia.
Porsi kecil seharga Rp 9.500 diperuntukkan bagi siswa PAUD, TK, SD kelas 1 hingga 3, serta balita. Sementara itu, porsi besar seharga Rp 11.400 diberikan kepada kelompok usia yang lebih tua dengan tambahan satu butir telur rebus.
Terkait ketiadaan label pada kemasan, Maulidia mengakui bahwa pihaknya belum menyematkan label fisik pada paket makanan yang dikirim.
“Kami belum memberikan label pada kemasan, namun informasi harga dan rincian menu kami bagikan melalui grup koordinasi sekolah,” ungkapnya.
Dari sisi manajemen pengadaan, Akuntan SPPG Pandan Lagan, Hamdani menyebutkan, bahwa pihaknya menerapkan sistem belanja harian guna menjaga kualitas bahan baku. Namun, ia tak menampik adanya kendala kapasitas penyimpanan.
“Kami menjaga kualitas, tetapi kapasitas tempat penyimpanan terbatas. Kami juga harus menyesuaikan dengan sifat bahan yang bisa disimpan,” jelas Hamdani.
Salah satu kendala teknis yang dihadapi adalah fluktuasi ukuran bahan segar, seperti buah pir. Menurut Hamdani, dalam satu kotak buah sering kali ditemukan perbedaan ukuran yang signifikan, yang berdampak pada penghitungan porsi.
“Buah pir ini harganya cukup tinggi, satu kilogram hanya dapat tiga buah. Karena buah pir yang kami terima hari ini ukurannya besar, maka kami menyesuaikan jumlah item menu untuk menjaga keseimbangan gizi dan anggaran,” kata Maulidia menjalaskan.
Ke depan, pihak SPPG berencana terus mengevaluasi menu yang disajikan dengan melihat respons masyarakat.
Sebelumnya, pihak penyedia sempat bereksperimen dengan menu ayam ungkep yang dinilai praktis dalam pengolahan.
Kini, pihak pengelola tengah memantau respons terhadap variasi menu yang diterapkan hari ini sebagai bahan evaluasi untuk hari-hari berikutnya.
Program ini diharapkan tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan kalori, namun juga dapat berjalan secara konsisten dengan standar keamanan pangan yang memadai, termasuk kejelasan informasi produk bagi para penerima manfaat. (Rano)
Baca juga:






Discussion about this post